Berita

Pemkab Tanbu tepis pemberitaan berlebihan nenek sebatang kara

  • Penulis: sidekaadmin, 23-02-2017 23:50
  • Merdeka.com, Tanah Bumbu - Kepala Kelurahan (Lurah) Tungkaran Pangeran, Kabupaten Tanah Bumbu, Abidin menepis adanya pemberitaan yang berlebihan tentang kondisi Nenek Martun (68), wanita sebatang kara yang dikabarkan terlantar. Ia mengatakan, pemberitaan yang dihembuskan sebuah media online pada Jumat (22/7) lalu, yang menggambarkan kehidupan sang nenek begitu sengsara tidak semuanya benar, dan cenderung tidak sesuai kenyataan. “Berita itu tidak benar. Karena warga yang bersangkutan sebenarnya tinggal di rumah layak huni dari hasil swadaya masyarakat sekitar, dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, warga tersebut juga rutin mendapat bantuan dari pemerintah daerah,” kata Abidin, di Tanah Bumbu, Senin (25/7). Senada dengan Abidin, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat ( Kabag Humas ) Setda Tanbu, Ardiansyah, S.Sos mengatakan, berita itu dianggap terlalu berlebihan, sehingga terkesan menyudutkan pihak pemerintah daerah, yang seolah kurang peduli terhadap penderitaan masyarakat di sekitarnya. Dalam pemberitaan sebuah media online Tanbu, Nenek Martun dikabarkan hidup seorang diri, yang hanya mampu mengkonsumsi daun singkong dan mencari sayuran liar lainnya untuk dijual ke pasar, guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari - hari. “Informasi itu diperoleh awak media bersangkutan melalui salah satu lembaga atau organisasi yang ada di Tanbu,’’ jelasnya. Atas pemberitaan tersebut, hal ini sempat mengundang perhatian keras pemerintah daerah. Melalui instansi terkait, Pemerintah Kabupaten Tanbu tidak luput memberikan bantuan berupa sembako, uang, dan obatan kepada sang nenek yang tinggal di lingkungan komplek sekolah SDN 3 Tungkaran Pangeran, Kecamatan Simpang Empat tersebut. Bahkan, Sabtu, (23/7) kemarin, secara pribadi Bupati Tanbu, Mardani H. Maming, melalui Kepala Bagian Kesra, H. Noryana, bersama jajaran instansi yang lain juga memberikan jenis bantuan yang sama kepada Nenek Martun. Namun ironisnya, sejumlah tetangga nenek Martun takut mendapatkan fitnah dari masyarakat atas datangnya bantuan tersebut. Mereka khawatir, jika selama ini dianggap tidak pernah peduli dengan kondisi Nenek Martun yang dikabarkan di media, sangat memprihatinkan. Padahal, Nenek Martun yang awalnya dikabarkan hidup sebatang kara di luar perkampungan, jauh hari sebelum berita beredar, sudah dibuatkan tempat tinggal yang layak oleh pihak sekolah bersama masyarakat di lingkungan perumahan guru SDN 3 Tungkaran Pangeran. Selain itu, di lingkungan tempat tinggalnya, sang nenek juga sudah memiliki Kartu Perlindungan Sosial (KPS) agar mudah mendapatkan bantuan biaya hidup dari pemerintah daerah, dan hampir setiap hari dapat kesempatan untuk bertemu guru – guru, dan wali murid yang kerap mengantarkan anaknya di sekolah tersebut. Melihat kondisi sang nenek, merekapun tidak jarang memberikan sedikit uang dan sejumlah makanan kepada Nenek Martun. Bahkan menurut pengakuan tetangganya di sekolah itu, tidak jarang Nenek Martun justru memberikan bantuan tersebut baik yang sudah diterimanya dari orang - orang atau pemerintah, kepada anak tirinya yang tinggal di Kotabaru. Nenek Martun adalah janda yang sudah lama ditinggal mati oleh suaminya. Dari suaminya tersebut, Nenek Martun masih memiliki seorang anak tiri yang tinggal di wilayah Kabupaten Kotabaru. Keseharian Nenek Martun memang mencari daun singkong dan dan sayuran liar yang lain untuk sebagian dijual dan sebagai tambahan lauk makan sehari - hari. Itupun dilakukan Nenek Martun kalau kondisi badannya tidak terlalu lelah, atau sekedar untuk menjalani rutinitas yang sudah menjadi kebiasaannya sehari - hari. “Pemerintah daerah pun sudah menawari Nenek Martun untuk tinggal di panti jompo. bahkan informasinya Kepala Sekolah SDN 3 Tungkaran Pangeran juga pernah menawari Nenek Martun untuk tinggal menetap dirumahnya, tapi beliau tidak mau, karena merasa enak dan bebas tinggal di rumah sendiri, ” katanya. Ardiansyah berharap, beredarnya berita tentang Nenek Martun menjadi pelajaran berharga bagi setiap awak media. Agar sebelum menerbitkan berita, penggalian data dan informasinya dilapangan harus lebih mendalam, baik dari sisi narasumber yang bersangkutan, maupun kondisi sosial di sekitarnya. “Sehingga berita itu bisa dipertanggung jawabkan baik kepada pemerintah maupun masyarakat, ” tegas Ardiansyah.